header image
 

Red Sox Nation

Red Sox Nation

Aku big fans of Red Sox…

Jum’at kemaren Red Sox menang 8-7 atas Tampa Bay Rays di game 5 ALCS  (tadi pagi Red Sox juga menang 4-2 dan ALCS harus diteruskan dengan memainkan game ke 7 besok). Tapi tulisan ini adalah tentang game 5.

Red Sox memainkan game ke 5 dalam kondisi tertinggal 3-1 dari Tampa Bay Rays. Setelah menang dalam game 1 di Tropicana Field St.Petersburgh, Red-Sox kalah tiga kali berturut-turut dan dua kali diantaranya kekalahan tersebut didapat di Fenway Park yang merupakan kandang dari Red Sox sendiri…Karena sistem dari ALCS adalah ‘the best of seven” maka game ke 5 di Fenway Park bisa jadi merupakan game terakhir Red Sox musim ini.

Pada pertandingan game ke 5…sampai ke top of 7th inning dari total sembilan innings yang dimainkan, Red Sox tertinggal 7-0 hasil homeruns dari B. Upton, E.  Longoria, dan C. Pena. Yang jelas akhirnya Red Sox menang 8-7. So…

Masalahnya bukan apakah Red Sox menang atau kalah tapi…
Sebagian penonton di Fenway Park sudah mulai meninggalkan stadion…aku pun sempat mematikan TV.  Wajar setiap orang membenci kekalahan. Tapi dalam kasus ini apakah dengan meninggalkan stadion atau mematikan TV, menukar channel, akan menghindarkan Red Sox dari kekalahan? Jawabnya tidak (walau sebenarnya aku tidak 100% yakin apakah peristiwa penonton yang meninggalkan stadion, aku yang mengganti channel, akan berpengaruh signifikan terhadap hasil pertandingan…tapi asumsikanlah tidak). Tapi dari sisi ujian karakter ini menarik. Saat itu jelas pertandingan belum berakhir, Red Sox pun sebenarnya belum kalah. Meskipun demikian, sebagian penonton khususnya yang meninggalkan stadion kemungkinan besar berpikir Red Sox sudah tidak punya harapan. Tapi ternyata Red Sox menang. 

Sebenarnya sudah banyak kasus serupa dalam dunia olah raga. Di sepak bola, ingat bagaimana MU mengalah Munchen secara dramatis di UEFA Champions League ‘99 hanya dalam sisa waktu 3 menit. Atau Liverpool yang memenangkan kejuaraan yang sama tahun 2005 setelah ketinggalan 3-0 dari Milan di babak pertama, atau Turki yang dua kali lolos dari kekalahan setelah mengalahkan Kroasia dan Ceko di menit-menit terakhir dalam kejuaran Piala Eropa Juni-Juli yang lalu.

Back to Red Sox. Bagiku, semua yang bertahan di Fenway Park  sampai akhir malam itu adalah pemenang. Pemain yang sudah memberikan semua yang mereka punya saat itu. Penonton yang juga sudah memberikan dukungan terbaik yang mereka punya. Mereka semua menjadi pemenang karena mereka sudah berani menghadapi takdir, apakah itu semanis madu atau sepahit empedu. Mereka semua menjadi pemenang karena mereka sudah berharap dan tetap berharap sampai akhirnya harapan itu hanyalah menjadi harapan belaka atau justru terwujud dalam kenyataan.

Tiba-tiba aku jadi ingat suatu kejadian saat Tim-Nas PSSI bertanding. Aku ngga ingat siapa lawannya atau apakah kita menang atau kalah. Aku hanya ingat bagaimana komentar miring dari penonton yang notabene adalah orang Indonesia terhadap Tim-Nas nya. Betul mereka kecewa dengan permainan yang ditunjukkan PSSI meskipun mereka juga bisa bersorak jika Tim-Nas menjaringkan gol. Tapi, apa pun alasannya, segala cacian, makian dan komentar miring yang dikeluarkan artinya bagi ku cuma satu…kita sudah kalah bahkan tanpa bertanding pun.

Penonton Liverpool adalah contoh baik…Saat tim mereka tertinggal 3-0 pada babak pertama Final UEFA Champions League 2005 di Istanbul Turki, mereka tetap bernyanyi dan bersorak mendukung timnya, atau dulu saat Inggris kalah adu penalti di depan penontonnya sendiri pada semifinal Euro ‘96…Pemain Inggris menangis, penonton nya juga. Tapi tidak ada cacian dan makian saat Toni Adams, kapten Inggris memimpin teman-temannya meninggalkan lapangan. Yang ada justru sebaliknya, standing ovation sebagai bentuk penghargaan kepada usaha seluruh pemain… 

Aku akhiri tulisan ini dengan bagian lagu yang selalu  dinyanyikan pendukung Liverpool untuk timnya:
 
 Walk on through the wind walk on through the rain
 Though your dreams be tossed and blown
 Walk on walk on with hope in your heart
 And you’ll never walk alone, you’ll never walk alone….

~ by anthropic on October 19, 2008.

Leave a Reply