Equilibrium
Red Sox kalah dalam game 7 ALCS. So it’s over…But soon enough, You’ll know why I called it “Equilibrium”
Game 7 di Tropicana Field St.Petersburgh. Seperti kebanyakan game-game yang lain, kita akan melihat pendukung tim yang satu duduk berdampingan dengan penduduk tim yang lain. Maka tidak akan aneh juga di akhir pertandingan kita menyaksikan pemandangan bahwa kebahagian bercampur dengan kesedihan. Tapi bukankah memang begitu ironi yang harus kita hadapi dalam hidup. Ironi yang tidak lain adalah produk dari (persaingan apapun bentuknya) yang seolah menjadi bahan bakar dari kehidupan itu sendiri.
Mungkin ini yang dikatakan bahwa kesetimbangan harus dijaga. Hadirnya kebahagian harus diimbangi oleh hadirnya kesedihan. Gelak tawa harus ditemani oleh air mata. Tapi kenapa?
Apa mungkin karena kebahagian sejati itu memang tidak ada (di sini). Atau kebahagian adalah suatu kuantitas yang jumlahnya terbatas sedemikian kita sehingga kita harus berebut untuk mendapatkannya karena jika tidak ia akan menjadi milik orang lain. Begitukah hidup? Haruskah ada orang yang menangis supaya gelak tawa menjadi milik kita? Jika demikian, maka akan harus selalu ada orang-orang harus menderita hidupnya karena jika tidak maka tidak akan ada orang yang bahagia.
Maka jika hari ini kau bersedih…ingatlah, bisa jadi kau telah berjasa atas kerelaanmu menanggung perasaan itu, sehingga ada orang yang bahagia hari ini. Atau, jika hari ini kau berbahagia, maka kenanglah masa-masa sedihmu. Ingatlah bahwa di suatu tempat, seseorang telah rela menanggung duka itu untukmu hari ini…

Hm, GREAT posting da!
Salam.
Gandhi said this on December 23, 2008 at 3:02 am