18 tahun usia pendidikan ku, belum sekalipun aku diusir dari kelas. Sampai akhirnya kamis minggu lalu aku untuk pertama kalinya mengalami apa yang namanya di usir. Yup…aku di usir dari Lab. oleh ketua Lab. Teori, you-know-who. It’s so suddenly, apa yang terjadi?
Begini ceritanya, kamis yang lalu rencananya aku dan Cima (menyelesaikan S-1 nya di Math-ITB) akan mendiskusikan paper yang akan kami presentasikan di ICMNS 2008. Rencananya jam 1 di Lab. Teori. Berhubung you-know-who sedang ada percakapan dengan siapa gitu…di Lab. kami terpakasa menunggu lebih kurang setengah jam lamanya. Dan akhirnya kesempatan itu tiba. Percakapan selesai, kami masuk dan menunggu you-know-who karena katanya mau shalat dulu.
Setelah selesai shalat, you-know-who masuk ke Lab. Aku pun langsung menyerahkan draft paper yang lengkap dengan nama-nama penulisnya. Di sini lah awal permasalahannya. Agaknya you-know-who tidak berkenan nama Cima ada di dalam paper itu. Terlebih dari urutan nama, Cima berada lebih awal dari you-know-who. Cima ditanyai, “kamu siapa?” lalu di usir…
Lalu herr Bob (adviser TA ku) di panggil. Awalnya aku disuruh ikut masuk keruangan you-know-who. Pembicaraannya dimulai dengan pertanyaan “ini bagaimana, belum juga kamu jadi dosen…?” Trus dia mencoret namanya dari draft paper yang aku serahkan, aku di suruh keluar. Awalnya aku pikir sebaiknnya aku kembali ke Lab. Ternyata aku malah di usir dari Lab. dan kalimat terakhir yang samar-samar aku ingat “ini lab saya, keluar kamu…” Ya sudah, aku keluar menyusul Cima. Kami kemudian milih untuk pergi ke CC barat sekalian nungguin Yuti (S1-Math ITB, S2 SP-ITB) yang sudah janji bakal ketemu sebelumnya.
Cukup lama berselang, aku dipanggil Herr Bob, tapi alih-alih bertemu di Fisika, beliau malah menyusul ku keluar…Beliau menjelaskan bahwa kesalahan ku sebelumnya adalah karena tidak memperkenalkan dan menjelaskan keterlibatan Cima sebelumnya…OK. Itu salah ku, tapi setelah ku pikir-pikir lagi aku punya pembelaan atas apa yang terjadi…
Kontrakku dengan kelompok keahlian Fisika Teori adalah riset di bawah Herr Bob dengan produk sebuah paper nasional, dan aku sudah menyerahkan draft paper ku. Dalam perjalanannya Herr Bob pikir paper ku punya potensi untuk dikembangkan menjadi paper international…aku pikir why not jika memang bisa meski itu berarti aku harus bekerja lebih keras.
Then, ICMNS datang…aku bilang ke Herr Bob kalo aku pengen ikut. Awalnya beliau melarang, karena khawatir konsentrasiku akan terpecah. Tapi setelah aku jelaskan yang akan aku presentasikan merupakan salah satu pengembangan dari argumentasi yang aku akan aku terapkan di paper ku untuk riset KK beliau pun mengizinkan. Akhirnya tanggal 12 september, abstrak paper ku di submit ke panitia ICMNS. Nama Cima sudah masuk dalam daftar penulis, dan Herr Bob sama sekali tidak berkeberatan karena pada dasarnya Cima memang berkontribusi cukup besar untuk paper ini…setelah hampir 2 minggu, abstrak kami diterima. Pekerjaan selanjutnya ada menyelesaikan paper tersebut.
Barangkali di sini masalahnya. Herr Bob ingin nama you-know-who ikut masuk. Bagiku it’s no problem. Aku cukup maklum dengan budaya seperti ini. You-know-who pun masuk sebagai kontributor ke empat…sesuatu yang ternyata sulit ia terima…
Masalahnya ternyata tidak sampai di sini…rencana studi ku ke sebuah negara pun istilahnya di reconsider (aku gak tau apa ini artinya dibatalkan). Menurut rencana seorang Prof. dari sebuah lembaga riset di sana dan seorang peneliti tamu asal Indonesia yang juga bekerja di lembaga riset tersebut akan berkunjung ke ITB sekaligus membicarakan kerjasama salah satunya dengan Lab. Teori, dan aku adalah orang yang akan dimasukkan dalam paket kerjasama itu. Sebenarnya seperti apa spesifiknya keterlibatanku dalam kerjasama ini tidaklah pernah dibacarakan dengan ku. Yang kemudian aku harus terima adalah aku diminta untuk bekerja di bidang Quantum Computation khususnya Quantum Cryptography. Sulit karena aku sebenarnya tertarik pada bidang string landscape, tapi aku bisa apa, rencananya sudah dimatangkan. Sampai akhirnya insiden ICMNS ini terjadi.
Apakah aku kecewa? Jawabnya ya dan tidak. Aku kecewa karena sekali lagi berarti orang tua ku akan sedih karena ternyata untuk ke sekian kalinya aku gagal berangkat sekolah. Di sisi lain aku bahagia karena bisa jadi aku terbebas dari cengkraman kewajiban yang akan merongrong seluruh sisa hidupku…
Tapi sudahlah….Inna lilLahi wa inna ilaihi rojiun. Jika ini musibah maka aku dapat berkata…Allahumma ajirni fi musibati wa akhlifli khairanminh, Inna akhlafallahu khranminh…
Mungkin ini saatnya kembali mencoba untuk The Only Institute of Technology, atau The Only University…