header image
 

Like a Star by Corinne Bailey Rae

Just like a star across my sky,
Just like an angel off the page,
You have appeared to my life,
Feel like I’ll never be the same,
Just like a song in my heart,
Just like oil on my hands,
Oh.. I do love you,

Still i wonder why it is,
I don’t argue like this,
With anyone but you,
We do it all the time,
Blowing out my mind,

You’ve got this look i can’t describe,
You make me feel like I’m alive,
When everything else is a fade,
Without a doubt you’re on my side,
Heaven has been away too long,
Can’t find the words to write this song,
Oh.,..
Your love,

Still i wonder why it is,
I don’t argue like this,
With anyone but you,
We do it all the time,
Blowing out my mind,

I have come to understand,
The way it is,
It’s not a secret anymore,
’cause we’ve been through that before,
From tonight I know that you’re the only one,
I’ve been confused and in the dark,
Now I understand,

I wonder why it is,
I don’t argue like this,
With anyone but you,
I wonder why it is,
I wont let my guard down,
For anyone but you
We do it all the time,
Blowing out my mind,

Just like a star across my sky,
Just like an angel off the page,
You have appeared to my life,
Feel like I’ll never be the same,
Just like a song in my heart,
Just like oil on my hands

Coming Home by John Legend

A father waits upon a son
A mother prays for his return
I just called to see
If you still have a place for me
We know that like took us apart
But you’re still within my heart
I go to sleep and feel your spirit next to me
I’ll make it home again
I pray you’ll fall in love again
Just say you’ll entertain the possibility
I learned enough from my mistakes
Learned from all I didn’t say
Won’t you wait for me

It may be long to get me there
It feels like I’ve been everywhere
But someday I’ll be coming home
Round and round the world will spin
Oh, the circle never ends
So you know that I’ll be coming home

We fight to stay alive
But somebody’s got to die
It’s so strange to me
A new year, a new enemy
Another soldier gone to war
Another story told before
Now it’s told again
It seems the wars will never end
But we’ll make it home again
Back where we belong again
We’re holding on to when
We used to dare to dream
We pray we live to see
Another day in history
Yes we still believe

It may be long to get me there
It feels like I’ve been everywhere
But someday I’ll be coming home
Round and round the world will spin
Oh, the circle never ends
So you know that I’ll be coming home

I’m coming, I’m coming, I’m coming?
You know that I’ll be coming home

It may be long to get me there
It feels like I’ve been everywhere
But someday I’ll be coming home
Round and round the world will spin
Oh, the circle never ends
So you know that I’ll be coming home

Again…

Terjadi lagi…

Yup, kali ini di ajang Formula satu. Semalam musim 2008 berakhir dengan dramatis di Sao Paolo Brasil. Felipe Massa dari Ferrari menang dengan menyakinkan. Massa unggul 13.2 detik dari pesaing terdekatnya–juara dunia dua kali–Fernando Alonso. Tapi meski menang, Massa tidak berhasil menjadi juara dunia. Lewis Hamilton, yang tahun lalu kalah satu poin dari Kimi Räikkönen, tahun ini menjadi juara dengan keunggulan juga satu poin, namun kali ini dari rekan satu tim Räikkönen.

Sebenarnya sampai tikungan terakhir di balapan 71 lap itu Massa adalah juara dunianya. Hamilton yang hanya butuh berada di posisi kelima agar juara, malah tertahan di posisi ke enam. Sebenarnya di lap ke 69, Hamilton sempat berada di posisi ke lima, tapi Hamilton di dahului oleh Sebastian Vettel. Hamilton coba mengambil kembali posisi itu, namun tidak kunjung bisa. Sampai akhirnya di lap ke-71 keajaiban itu datang. Timo Glock dari Toyota kehilangan grip. Laju kendaraannya kalah jauh dari Vettel dan Hamilton. Hasilnya Vettel dan Hamilton pun mendahulinya.

Sebenarnya saat Massa menyelesaikan lap terakhir, keluarganya yang berada di garasi tim Ferrari sempat bersorak gembira karena sampai saat Massa finish Hamilton masih berada di posisi ke 6. Tapi tawa bahagia itu segera berubah menjadi air mata kecewa

Timo Glock mendapatkan posisi ke empatnya dari hasil kenekatannya tidak mengganti ban meskipun hujan turun. Memang beberapa lap sejak hujan turun kecepatan mobilnya yang menggunakan ban kering masih sama dengan mobil yang menggunakan ban basah. Tapi ini hanya persoalan waktu sampai mobil akhirnya akan semakin sulit dikendalikan. Waktu nya itu adalah pada tikungan terakhir lap 71. Hamilton juara Massa kalah.

Lewis Hamilton mendapatkan apa yang direnggut darinya di tempat yang sama tahun lalu. Sekarang ia adalah juara dunia termuda sepanjang sejarah Formula 1.

Aku tidak tahu apa aku harus bersorak atau apa dari hasil ini. Aku pendukung The Silver Arrow, Mclaren-Mercedes dari dulu. Sampai tikungan terakhir itu aku juga diliputi ketegangan. Tapi setelah kenyataannya Lewis juara, tetap saja…

Aku bersimpati pada Massa. You’re a great man. You’re the champion too.

Sungguh hidup itu penuh ironi…Ia persaudarakan kebahagiaan dengan kesedihan.  Mungkin karena kebahagian tak bertepi itu hanya ada di surga. Atau jika ia boleh ada di sini, maka ia harus hadir dalam definisi lain.

Someday, I’ll be coming home again, soon…

Paradox

Di dunia yang mana kita tinggal? Dunia yang menerima Quantum Mechanics tidak hanya sebagai teori, tapi juga adalah realitas yang sesungguhnya atau dunia yang lain dengan quantum mechanics hanya salah satu bagiannya atau bisa juga dunia di mana quantum mechanics adalah suatu interpretasi yang keliru tentang realitas.

Aku jadi ingat paper nya Einstein, Podolsky dan Rosen: Can quantum-mechanical description of physical reality be considered complete? (Phys. Rev. 47 777 (1935)). Dari paper ini bermula apa yang terkenal dengan EPR paradox itu. Sejauh ini aku lebih sepakat kepada Einstein ketimbang pada quantum-ist. Alasan ku sederhana, sulit untuk percaya bahwa dunia ini bersifat probabilistik bahwa kita adalah satu kemungkinan dari begitu banyak kemungkinan.

Dua bulan ini aku mengerjakan sebuah paper kecil bersama Herr Bob (one of the greatest mathematician from this country, I believe) dan Ismail. Dalam paper ini kami melakukan survey terhadap persoalan travelling pada 2-D Euclidean space. Untuk penyederhanaan kami menetapkan pathnya harus dibatasi pada grid. Jadi peta perjalanannya akan terlihat seperti Cartesian Grids. Persoalan yang ditinjau adalah : pertama, misal diketahui kita memulai perjalanan dari titik asal O (0,0) dan sekarang kita berada di titik F (n,m). Sekarang pertanyaannya: Dapatkah orang lain dapat menyusul aku ke F (n,m) dengan melalui jalan yang persis sama. Untuk aturan perjalanan yang paling sederhana di mana pilihan jalan hanya ke kanan atau ke atas, kami menemukan untuk n = m, persoalan ini termasuk ke dalam kelas NP-hard. Dari sini dengan mudah diambil kesimpulan, untuk kasus yang lebih rumit, kita akan mendapatkan persoalan yang tergabung ke dalam kelas NP juga.

Cara mudah untuk menjelaskan persoalan NP completeness adalah sebagai berikut: Minta lah seorang teman untuk menuliskan sebuah rangkaian huruf dan angka secara acak. Banyaknya angka yang di izinkan antara 6 sampai 13 karakter. Tugas kita adalah menebak password itu. Tidak ada pengetahuan lain yang kita miliki selain yang di berikan di atas dan tidak ada cara lain kecuali dengan menebak. Banyaknya kombinasi yang harus kita periksa adalah antara 36 pangkat 6 sampai dengan 36 pangkat 13. Nilai ini lebih dari 2 pangkat 30 sampai 2 pangkat 65. Sangat banyak…

Kembali ke persoalan di atas. Sejauh yang aku temukan, seluruh teori yang coba menjelaskan sebuah fenomena alam secara lengkap akan dihadapi pada persoalan NP seperti di atas. Pertanyaannya adalah, jika benar bahwasanya eksistensi yang kita nikmati sekarang hanyalah satu dari begitu banyak kemungkinan eksistensi yang lain, lantas bagaimana caranya eksistensi ini yang terpilih. Secara randomkah?

Di sinilah keberatan Einstein dapat dipahami. Aku sepakat, “Tuhan tidak bermain dadu.” Bisa jadi, sebenarnya sangat bisa jadi, Quantum Mechanics tidak lengkap. Ada sesuatu yang tidak kita ketahui ada diluar sana, sesuatu yang dalam computer science kita kenal dengan sebutan oracle. Di Fisika, oracle itu adalah hukum…

Bagiku alam adalah Komputer, tapi pertanyaannya adalah komputer macam apa alam ini? Bagiku alam juga seharusnya analitik dan sederhana, bukannya numerik. Tapi pengetahuan kita bisa jadi numerik dan menyisakan banyak error. Tapi itu semua bukan karena alamnya yang tidak eksak, tapi kita lah yang tidak pasti.
Next: The Anthropic Principle and NP Hardness Assumption

NB: Thanks for Yellow, untuk bukunya dan semuainya…

Insiden Paper ICMNS

18 tahun usia pendidikan ku, belum sekalipun aku diusir dari kelas. Sampai akhirnya kamis minggu lalu aku untuk pertama kalinya mengalami apa yang namanya di usir. Yup…aku di usir dari Lab. oleh ketua Lab. Teori, you-know-who. It’s so suddenly, apa yang terjadi?

Begini ceritanya, kamis yang lalu rencananya aku dan Cima (menyelesaikan S-1 nya di Math-ITB) akan mendiskusikan paper yang akan kami presentasikan di ICMNS 2008. Rencananya jam 1 di Lab. Teori. Berhubung you-know-who sedang ada percakapan dengan siapa gitu…di Lab. kami terpakasa menunggu lebih kurang setengah jam lamanya. Dan akhirnya kesempatan itu tiba. Percakapan selesai, kami masuk dan menunggu you-know-who karena katanya mau shalat dulu.

Setelah selesai shalat, you-know-who masuk ke Lab. Aku pun langsung menyerahkan draft paper yang lengkap dengan nama-nama penulisnya. Di sini lah awal permasalahannya. Agaknya you-know-who tidak berkenan nama Cima ada di dalam paper itu. Terlebih dari urutan  nama, Cima berada lebih awal dari you-know-who. Cima ditanyai, “kamu siapa?” lalu di usir…

Lalu herr Bob (adviser TA ku) di panggil. Awalnya aku disuruh ikut masuk keruangan you-know-who. Pembicaraannya dimulai dengan pertanyaan “ini bagaimana, belum juga kamu jadi dosen…?” Trus dia mencoret namanya dari draft paper yang aku serahkan, aku di suruh keluar. Awalnya aku pikir sebaiknnya aku kembali ke Lab. Ternyata aku malah di usir dari Lab. dan kalimat terakhir yang samar-samar aku ingat “ini lab saya, keluar kamu…” Ya sudah, aku keluar menyusul Cima. Kami kemudian milih untuk pergi ke CC barat sekalian nungguin Yuti (S1-Math ITB, S2 SP-ITB) yang sudah janji bakal ketemu sebelumnya.

Cukup lama berselang, aku dipanggil Herr Bob, tapi alih-alih bertemu di Fisika, beliau malah menyusul ku keluar…Beliau menjelaskan bahwa kesalahan ku sebelumnya adalah karena tidak memperkenalkan dan menjelaskan keterlibatan Cima sebelumnya…OK. Itu salah ku, tapi setelah ku pikir-pikir lagi aku punya pembelaan atas apa yang terjadi…

Kontrakku dengan kelompok keahlian Fisika Teori adalah riset di bawah Herr Bob dengan produk sebuah paper nasional, dan aku sudah menyerahkan draft paper ku. Dalam perjalanannya Herr Bob pikir paper ku punya potensi untuk dikembangkan menjadi paper international…aku pikir why not jika memang bisa meski itu berarti aku harus bekerja lebih keras.

Then, ICMNS datang…aku bilang ke Herr Bob kalo aku pengen ikut. Awalnya beliau melarang, karena khawatir konsentrasiku akan terpecah. Tapi setelah aku jelaskan yang akan aku presentasikan merupakan salah satu pengembangan dari argumentasi yang aku akan aku terapkan di paper ku untuk riset KK beliau pun mengizinkan. Akhirnya tanggal 12 september, abstrak paper ku di submit ke panitia ICMNS. Nama Cima sudah masuk dalam daftar penulis, dan Herr Bob sama sekali tidak berkeberatan karena pada dasarnya Cima memang berkontribusi cukup besar untuk paper ini…setelah hampir 2 minggu, abstrak kami diterima. Pekerjaan selanjutnya ada menyelesaikan paper tersebut.

Barangkali di sini masalahnya. Herr Bob ingin nama you-know-who ikut masuk. Bagiku it’s no problem. Aku cukup maklum dengan budaya seperti ini. You-know-who pun masuk sebagai kontributor ke empat…sesuatu yang ternyata sulit ia terima…

Masalahnya ternyata tidak sampai di sini…rencana studi ku ke sebuah negara pun istilahnya di reconsider (aku gak tau apa ini artinya dibatalkan). Menurut rencana seorang Prof. dari sebuah lembaga riset di sana dan seorang peneliti tamu asal Indonesia yang juga bekerja di lembaga riset tersebut akan berkunjung ke ITB sekaligus membicarakan kerjasama salah satunya dengan Lab. Teori, dan aku adalah orang yang akan dimasukkan dalam paket kerjasama itu. Sebenarnya seperti apa spesifiknya keterlibatanku dalam kerjasama ini tidaklah pernah dibacarakan dengan ku. Yang kemudian aku harus terima adalah aku diminta untuk bekerja di bidang Quantum Computation khususnya Quantum Cryptography. Sulit karena aku sebenarnya tertarik pada bidang string landscape, tapi aku bisa apa, rencananya sudah dimatangkan. Sampai akhirnya insiden ICMNS ini terjadi.  

Apakah aku kecewa? Jawabnya ya dan tidak. Aku kecewa karena sekali lagi berarti orang tua ku akan sedih karena ternyata untuk ke sekian kalinya aku gagal berangkat sekolah. Di sisi lain aku bahagia karena bisa jadi aku terbebas dari cengkraman kewajiban yang akan merongrong seluruh sisa hidupku…

Tapi sudahlah….Inna lilLahi wa inna ilaihi rojiun. Jika ini musibah maka aku dapat berkata…Allahumma ajirni fi musibati wa akhlifli khairanminh, Inna akhlafallahu khranminh…
Mungkin ini saatnya kembali mencoba untuk The Only Institute of Technology, atau The Only University…

Equilibrium

Red Sox kalah dalam game 7 ALCS. So it’s over…But soon enough, You’ll know why I called it “Equilibrium”

Game 7 di Tropicana Field St.Petersburgh. Seperti kebanyakan game-game yang lain, kita akan melihat pendukung tim yang satu duduk berdampingan dengan penduduk tim yang lain. Maka tidak akan aneh juga di akhir pertandingan kita menyaksikan pemandangan bahwa kebahagian bercampur dengan kesedihan. Tapi bukankah memang begitu ironi yang harus kita hadapi dalam hidup. Ironi yang tidak lain adalah produk dari (persaingan apapun bentuknya) yang seolah menjadi bahan bakar dari kehidupan itu sendiri.

Mungkin ini yang dikatakan bahwa kesetimbangan harus dijaga. Hadirnya kebahagian harus diimbangi oleh hadirnya kesedihan. Gelak tawa harus ditemani oleh air mata. Tapi kenapa?

Apa mungkin karena kebahagian sejati itu memang tidak ada (di sini). Atau kebahagian adalah  suatu kuantitas yang jumlahnya terbatas sedemikian kita sehingga kita harus berebut untuk mendapatkannya karena jika tidak ia akan menjadi milik orang lain. Begitukah hidup? Haruskah ada orang yang menangis supaya gelak tawa menjadi milik kita? Jika demikian,  maka akan harus selalu ada orang-orang harus menderita hidupnya karena jika tidak maka tidak akan ada orang yang bahagia.

Maka jika hari ini kau bersedih…ingatlah, bisa jadi kau telah berjasa atas kerelaanmu menanggung perasaan itu, sehingga ada orang yang bahagia hari ini. Atau, jika hari ini kau berbahagia, maka kenanglah masa-masa sedihmu. Ingatlah bahwa di suatu tempat, seseorang telah rela menanggung duka itu untukmu hari ini…

Red Sox Nation

Red Sox Nation

Aku big fans of Red Sox…

Jum’at kemaren Red Sox menang 8-7 atas Tampa Bay Rays di game 5 ALCS  (tadi pagi Red Sox juga menang 4-2 dan ALCS harus diteruskan dengan memainkan game ke 7 besok). Tapi tulisan ini adalah tentang game 5.

Red Sox memainkan game ke 5 dalam kondisi tertinggal 3-1 dari Tampa Bay Rays. Setelah menang dalam game 1 di Tropicana Field St.Petersburgh, Red-Sox kalah tiga kali berturut-turut dan dua kali diantaranya kekalahan tersebut didapat di Fenway Park yang merupakan kandang dari Red Sox sendiri…Karena sistem dari ALCS adalah ‘the best of seven” maka game ke 5 di Fenway Park bisa jadi merupakan game terakhir Red Sox musim ini.

Pada pertandingan game ke 5…sampai ke top of 7th inning dari total sembilan innings yang dimainkan, Red Sox tertinggal 7-0 hasil homeruns dari B. Upton, E.  Longoria, dan C. Pena. Yang jelas akhirnya Red Sox menang 8-7. So…

Masalahnya bukan apakah Red Sox menang atau kalah tapi…
Sebagian penonton di Fenway Park sudah mulai meninggalkan stadion…aku pun sempat mematikan TV.  Wajar setiap orang membenci kekalahan. Tapi dalam kasus ini apakah dengan meninggalkan stadion atau mematikan TV, menukar channel, akan menghindarkan Red Sox dari kekalahan? Jawabnya tidak (walau sebenarnya aku tidak 100% yakin apakah peristiwa penonton yang meninggalkan stadion, aku yang mengganti channel, akan berpengaruh signifikan terhadap hasil pertandingan…tapi asumsikanlah tidak). Tapi dari sisi ujian karakter ini menarik. Saat itu jelas pertandingan belum berakhir, Red Sox pun sebenarnya belum kalah. Meskipun demikian, sebagian penonton khususnya yang meninggalkan stadion kemungkinan besar berpikir Red Sox sudah tidak punya harapan. Tapi ternyata Red Sox menang. 

Sebenarnya sudah banyak kasus serupa dalam dunia olah raga. Di sepak bola, ingat bagaimana MU mengalah Munchen secara dramatis di UEFA Champions League ‘99 hanya dalam sisa waktu 3 menit. Atau Liverpool yang memenangkan kejuaraan yang sama tahun 2005 setelah ketinggalan 3-0 dari Milan di babak pertama, atau Turki yang dua kali lolos dari kekalahan setelah mengalahkan Kroasia dan Ceko di menit-menit terakhir dalam kejuaran Piala Eropa Juni-Juli yang lalu.

Back to Red Sox. Bagiku, semua yang bertahan di Fenway Park  sampai akhir malam itu adalah pemenang. Pemain yang sudah memberikan semua yang mereka punya saat itu. Penonton yang juga sudah memberikan dukungan terbaik yang mereka punya. Mereka semua menjadi pemenang karena mereka sudah berani menghadapi takdir, apakah itu semanis madu atau sepahit empedu. Mereka semua menjadi pemenang karena mereka sudah berharap dan tetap berharap sampai akhirnya harapan itu hanyalah menjadi harapan belaka atau justru terwujud dalam kenyataan.

Tiba-tiba aku jadi ingat suatu kejadian saat Tim-Nas PSSI bertanding. Aku ngga ingat siapa lawannya atau apakah kita menang atau kalah. Aku hanya ingat bagaimana komentar miring dari penonton yang notabene adalah orang Indonesia terhadap Tim-Nas nya. Betul mereka kecewa dengan permainan yang ditunjukkan PSSI meskipun mereka juga bisa bersorak jika Tim-Nas menjaringkan gol. Tapi, apa pun alasannya, segala cacian, makian dan komentar miring yang dikeluarkan artinya bagi ku cuma satu…kita sudah kalah bahkan tanpa bertanding pun.

Penonton Liverpool adalah contoh baik…Saat tim mereka tertinggal 3-0 pada babak pertama Final UEFA Champions League 2005 di Istanbul Turki, mereka tetap bernyanyi dan bersorak mendukung timnya, atau dulu saat Inggris kalah adu penalti di depan penontonnya sendiri pada semifinal Euro ‘96…Pemain Inggris menangis, penonton nya juga. Tapi tidak ada cacian dan makian saat Toni Adams, kapten Inggris memimpin teman-temannya meninggalkan lapangan. Yang ada justru sebaliknya, standing ovation sebagai bentuk penghargaan kepada usaha seluruh pemain… 

Aku akhiri tulisan ini dengan bagian lagu yang selalu  dinyanyikan pendukung Liverpool untuk timnya:
 
 Walk on through the wind walk on through the rain
 Though your dreams be tossed and blown
 Walk on walk on with hope in your heart
 And you’ll never walk alone, you’ll never walk alone….

Start

Bismillahirrahmanirrahim…

Blogging, ada alasan aku sulit melakukannya (sebagian orang akan berkata “daaa….???).

Alasan pertama…aku khawatir akan mengisinya dengan curhat dan curhat. Karena menulis di blog pada dasarnya menyertakan ijin orang untuk membaca bahkan mengomentarinya, so…aku harus extra hati-hati mengenai apa yang akan aku post.

Alasan kedua…Aku punya panutan mengenai seperti apa bentuk blog ku. Aku ingin bisa punya blog seperti punya Terry Tao, Scott Aaronson, John Baez, Sean Carrol,…Aku belum merasa cukup ilmu untuk itu…

Cerita punya cerita…sekitar 4 tahun yang lalu, aku membuat blog-ku yang pertama, namanya Mutha’allihin yang kira-kira artinya kebanggan para filosof. Ini julukan yang diberikan kepada Shadradin As-Shirazi…(siapa dia…baca sendiri deh). Aku sempat posting beberapa tulisan…dan setelah aku baca dan baca lagi…Aku merasa eneg, dan memutuskan menghapusnya…maka Mutha’allihin pun kosong…dan terlupakan…

Tahun lalu aku mencoba bikin blog ku yang baru…Namanya Continuum (waktu itu lagi tertarik dengan Continuum Hypothesis). Nasibnya tidak lebih baik dari Mutha’allihin, bahkan lebih parah…aku dah lupa passwordnya hanya dalam beberapa hari…

Sekarang aku mencoba lagi…So, mari lihat, berapa lama sampai akhirnya ini dikosongkan kembali dan kemudian ditinggalkan.